Selasa, 21 September 2010

kare adventure independent

dalez adventure bersama kare
Wisata alam merupakan salah satu alternatif tujuan wisata masyarakat, khususnya bagi mereka yang bermukim di daerah perkotaan. Beristirahat sejenak dari bising dan gaduhnya suasana di kota dengan menikmati indahnya panorama alam, sedikitnya dapat mengurangi rasa jangar akibat pekerjaan yang terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran.
Gunung Papandayan sebagai salah satu gunung tertinggi di kawasan Provinsi Jawa Barat selain Gunung Ciremai, merupakan objek wisata yang kiranya patut untuk dikunjungi. Objek wisata yang berlokasi di Garut ini termasuk objek wisata alam cukup terkenal, terutama bagi mereka yang punya hobi mendaki gunung, baik yang tinggal di kawasan Provinsi Jawa Barat maupun di luar Provinsi Jawa Barat. Letak objek wisata ini pun terbilang sangat mudah ditempuh melalui transportasi darat selama hampir kurang lebih 2,5 s.d. 3 jam.
Seperti halnya gunung-gunung lain, untuk menuju gunung Papandayan terdapat beberapa pintu masuk, salah satunya melalui pintu masuk yang berada di Desa Pakejeng Kecamatan Pamulihan yang merupakan pintu masuk paling biasa dilewati para pendaki. Sesampainya di Desa Pakejeng, kita sebenarnya masih harus berjalan menuju kaki gunung Papandayan sekaligus menuju pos pendaftaran yang jaraknya lumayan jauh, yaitu sekira 8 s.d. 10 km (menurut informasi penduduk) dengan kondisi jalan menanjak.
Tetapi bila kita tidak ingin capek atau membawa bekal uang yang cukup banyak, kita sebenarnya dapat menyewa dolak (mobil dengan bak terbuka) untuk mencapai kaki gunung tersebut, namun tentunya dengan harga yang cukup tinggi. Bagi para pendaki, berjalan kaki merupakan pilihan utama, selain untuk mencari pengalaman juga tentunya agar menghemat bekal uang agar cukup untuk pulang nanti.
Sesampainya di kaki Gunung Papandayan, kita diharuskan melakukan pendaftaran dengan membayar biaya administrasi sebesar Rp 1.500,00 (tahun 2000) dan kita pun diharuskan menyimpan kartu identitas pribadi ataupun kelompok. Bagi para pendaki yang ingin beristirahat sejenak selepas perjalanan yang cukup menguras banyak keringat tadi, dapat mendirikan tenda di area bumi perkemahan Camp Davies.
Bagi yang ingin melanjutkan pendakian menuju puncak gunung, terlebih dahulu harus menempuh perjalanan jauh selama berjam-jam dengan kondisi perjalanan berbatu dan menanjak. Di sini para pendaki harus berhati-hati, karena bila tidak, bisa tergelincir dan menimpa batu-batu besar yang berada di sekeliling jalan sehingga nyawa boleh jadi menjadi taruhannya.
Di tengah perjalanan antara Camp Davies dengan puncak gunung Papandayan, kita dapat menyaksikan suatu fenomena alam yang begitu jelas tampak di depan pelupuk mata, yaitu bagaimana semburan uap panas keluar dari perut bumi dan mengeluarkan bau yang begitu menyengat, mungkin karena mengandung unsur belerang. Di sini biasanya para pendaki menyempatkan diri untuk berfoto bersama mengabadikan fenomena alam yang mungkin saja tidak terdapat di kawasan wisata alam lainnya.
Ketika perjalanan hampir sampai di puncak gunung Papandayan, kondisi perjalanan akan terasa seikit lebih menyejukkan karena rimbunnya pepohonan. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, udara terasa panas karena di sekitar perjalanan jarang terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi yang mampu menahan teriknya sinar matahari dan hanya berupa tebing dan batu-batu cadas besar.
Sesampainya di puncak gunung Papandayan atau lebih dikenal dengan nama Pondok Saladah, ada kebanggaan tersendiri bagi para pendaki yang berhasil mencapainya. Alam terasa tampak sangat indah dilihat dari atas puncak gunung, kita pun seolah-olah berada di atas awan yang terhampar bagaikan permadani putih raksasa.
Kita juga dapat melihat atau bahkan memetik bunga eidelweis yang juga disebut-sebut sebagai bunga abadi, bunga yang meskipun dipetik tidak pernah layu dan tidak pernah hilang aromanya khasnya. Bunga ini merupakan bunga yang tergolong langka karena hanya tumbuh di atas puncak gunung yang beriklim dingin dan tidak semua puncak gunung ditumbuhi oleh bunga jenis ini.
Walaupun udara di puncak gunung terasa sangat dingin, tetapi hal tersebut seakan sirna oleh keindahan alam di sekitar puncak gunung yang menyuguhkan suasana yang tidak mungkin diperoleh di tempat lain. Akhirnya kita hanya bisa mengucapkan “Maha Besar Allah dengan segala bentuk keindahan yang diciptakan-Nya”.
Perempuan.com

Kamis, 02 September 2010

Kode Etik Pecinta Alam Indonesia




Kode etik pecinta alam Indonesia dicetuskan dalam kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam IV yang dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja pada bulan Januari 1974. Gladian yang diselenggarakan oleh Badan Kerja sama Club Antarmaja pencinta Alam se-Ujung Pandang ini diikuti oleh 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia.

Kode etik pecinta alam Indonesia ini, sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagai perkumpulan pecinta alam di seluruh Indonesia.
Bunyi dari kode etik pecinta alam Indonesia adalah sebagai berikut:
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat
Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan
tanah air

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian
dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa

Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran
menyatakan :

  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam
    sesuai dengan kebutuhannya
  3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat
    sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam
    sesuai dengan azas pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan
    pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
  7. Selesai
Disyahkan bersama dalam
Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974




 










AKAPPELA SMAN 1 KATAPANG          LINTAS ALAM CAKRAWALA